TRANSFORMASI AUSTENIT PADA TEMPERATUR TETAP

Transformasi austenit pada temperatur tetap

Temperatur transformasi austenit banyak berpengaruh terhadap penyebaran ferrit dan sementit pada hasil transformasi tersebut, yang akhirnya juga akan mempengaruhi sifat baja sesudah proses laku panas. Dengan membuat transformasi ini berlangsung pada temperatur tetap (isotermal) dapat dipelajari waktu mulai dan berakhirnya transformasi dan lain-lain, yang akan berguna untuk menentukan prosedur laku panas yang harus dilakukan untuk menghasilkan baja dengan strukturmikro tertentu.

Continue reading

TRANSFORMASI FASE SAAT PENDINGINAN PADA BAJA

Transformasi Fase saat Pendinginan

Dalam suatu proses laku panas, setelah pemanasan mencapai temperatur yang ditentukan  dan diberi holding time secukupnya maka dilakukan pendinginan dengan laju tertentu.  Struktur mikro yang terjadi setelah pendinginan akan tergantung pada laju-laju pendinginan. Karenanya sifat mekanikdari baja seelah akhir suatu proses laku panas akan banyak di tentukan oleh laju pendinginan.

Continue reading

TRANSFORAMSI FASE SAAT PEMANASAN PADA BAJA

Transformasi Fase pada saat Pemanasan

Transformasi yang  terjadi selama pemanasan dapat dipelajari dari diagram keseimbangan (diagram fase). Pada temperatur kamar, baja hypoeutektoid (misal dengan 0,8% karbon) terdiri dari butir-butir Kristal ferrit dan perlit, perubahan struktur mikro yang terjadi  pemanasan atau pendinginan ekuillbrium dapat dilihat pada gambar1.2. kalau bajaini dipanaskan sampai temperatur dibawah temperatur kritis AV, maka belum tampak adanya perubahan struktur mikro. Tetapi bila pemanasan dilanjutkan hingga tepat pda temperature kritis A1 maka perlit akan mengalami reaksi eutectoid, lamel-lamel ferrit dan semetit dari perlit akan bereaksi dan menjadi austenit.

Continue reading

FLAME HARDENING DAN INDUCTION HARDENING

Flame Hardening

Pengerasan dilakukan dengan hanya memanaskan bagian permukaan. Pada flame hardening dilakukan dengan menyalakan api dengan intensitas tinggi ke permukaan, biasanya dengan api dari brander oxyacetlene, sehingga sebelum panas sampai menjalar ke bagian dalam bagian permukaan yang sudah mencapai temperatur austenisting kemudian diquench. Dengan demikian di bagian permukaan terbentuk martensit, sedang di bagian dalam tetap seperti semula karena itu baja yang akan diflame hardening harus mempunyai hardenability yang memadai, kadar karbonnya 0,30-0,60%.

Continue reading

NITRIDING, CYANIDING, DAN CARBONITRIDING PADA BAJA

Nitriding

Nitriding adalah proses di mana nitrogen (N) ditambahkan ke permukaan baja untuk meningkatkan kekerasan permukaan dan ketahanan aus permukaan. Nitriding dilakukan dengan memanaskan baja di dalam dapur dengan atmosfer yang mengandung atom nitrogen aktif yang akan berdisosiasi dalam baja membentuk nitrida. Nitrogen aktif ini diperoleh dari gas amonia yang dialirkan secara kontinyu kedalam dapur yang kedap udara dengan temperatur 500oC – 600oC. Baja yang tepat untuk proses nitriding biasanya merupakan baja carbon-medium yang mengandung unsur paduan membentuk nitride forming element seperti alumunium, kromium, molyb-denum, dan vanadium.

Continue reading

PROSES CARBURISING PADA BAJA

Carburising

Mengeraskan permukaan dengan carburising adalah cara pengerasan permukaan yang paling tua dan paling murah. Baja yang akan dicarburising biasanya baja dengan keuletan tinggi, dengan kadar karbon 0,2 % atau kurang. Baja ini tidak dapat langsung dikeraskan (diquench) karena kadar karbonnya terlalu rendah. Agar dapat dikeraskan maka kadar karbonnya harus ditambah. Penambahan dilakukan dengan mendiffusikan karbon melalui permukaan baja sehingga permukaan mengandung cukup banyak karbon untuk dapat dikeraskan dengan quenching (pembentukan martensit). Proses pengerasan permukaan dengan carburising ini dapat dibagi menjadi dua tahapan:

  • Penambahan karbon (carburising)
  • Pengerasan.

Continue reading

BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK

Baja Tahan Karat Austenitik

Kadar chrom pada baja ini >16% dan kadar nickel >7%. Bila baja dipanaskan hingga mencapai temperatur tinggi di atas 727º C, disebut austenite. Austenitik adalah larutan padat dari iron carbide (Fe3C) pada besi. Baja tahan karat austenitik tetap austenitik pada temperatur ruangan. Chrom ditambahkan untuk membuat baja menjadi tahan karat dan nikel ditambahkan untuk membuat baja tetap austenitik. Berstruktur austenitik, non magnetik, non hardenable. Mudah di hot-work, tetapi agak sulit di cold-work karena dapat mengalami work-hardening cukup hebat. Dalam keadaan cold worked baja ini menjadi sedikit magnetik. Cold working dapat memberikan sifat mekanik yang sangat bervariasi, tergantung pada tingkat deformasi yang dialami. Kelompok ini terdiri dari baja chrom-nickel (seri 3xx) dan baja chrom-nickel-mangan (seri 2xx). Jenis baja ini paling umum dipakai dalam dunia industri dan juga merupakan stainless steel yang paling mudah untuk di las, dengan menggunakan proses las yang biasa dipergunakan.

Continue reading

KOEFISIEN MUAI PANJANG DAN ALAT UKUR DIAL-GAUGE

Koefisien Muai Panjang

Koefisien muai panjang suatu benda adalah perbandingan antara pertambahan panjang terhadap panjang awal benda persatuan kenaikan suhu. Jika suatu benda padat dipanaskan maka benda tersebut akan memuai kesegala arah, dengan kata lain ukuran panjang bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor. Alat untuk membandingkan muai panjang dari berbagai logam adalah maschen brock. Ketika tiga batang logam yang berbeda jenis (tembaga, almunium dan besi) dan sama panjang walaupun panjang dari ketiga logam sama dengan mengalami kenaikan suhu yang sama.tetapi pertambahan panjangnya berbeda. Peristiwa yang mengikuti penambahan temperatur pada bahan adalah perubahan ukuran dan keadaanya.keadaan temperatur akan mengakibatkan terjadinya penambahan jarak rata-rata atom bahan. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemuaian (ekspensi) pada seluruh padatan tersebut. Perubahan pada dimensi linier disebut sebagai muai linier, jika penambahan temperatur ΔT adalah penambahan panjang ΔT, untuk penambahan temperatur yang kecil, maka pertambahan panjang pada tempertur (lt) akan sebanding dengan perubahan temperatur dengan panjang muai (Lo). Pemuaian pada zat padat ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang (untuk satu demensi), pemuaian luas (dua dimensi) dan pemuaian volume (untuk tiga dimensi).

Continue reading

BAJA TAHAN KARAT MARTENSITIK DAN BAJA TAHAN KARAT FERRITIK

Baja Tahan Karat Martensitik

Pada dasarnya baja ini adalah baja chrom, dengan kadar chrom antara 11,5-18%. Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain type 403, 410, 416, 420, 440A, 501 dan 502 yang paling popular adalah type 410 dan 416 yang sering digunakan untuk turbin blade dan benda tuangan tahan korosi. Kelompok baja tahan karena ini bersifat magnetic, dapat dicold-work dengan mudah, terutama yang dengan kadar karbon rendah, machinability cukup baik, ketangguhan baik, juga dapat dihot-work dan memperlihatkan sifat tahan korosi terhadap cuaca dan beberapa chemical yang cukup baik. Sifat tahan korosinya akan paling baik bila dalam kondisi dikeraskan, tetapi masih belum sebaik sifat tahan korosi dari kelompok ferritik dan austenitic.

Continue reading

SIFAT FISIK BAJA TAHAN KARAT DAN KEUNGGULAN BAJA TAHAN KARAT

Sifat Fisik Baja Tahan Karat:

  • Stainless steel adalah zat keras dan kuat.
  • Stainless steel bukan konduktor yang baik (panas dan listrik).
  • Stainless steel memiliki kekuatan ulet tinggi. Ini berarti dapat dengan mudah dibentuk atau bengkok atau digambar dalam bentuk kabel.
  • Sebagian varietas dari stainless steel memiliki permeabilitas magnetis. Mereka sangat tertarik terhadap magnet.
  • Tahan terhadap korosi.
  • Tidak bisa teroksidasi dengan mudah
  • Stainless steel dapat mempertahankan ujung tombak untuk suatu jangka waktu yang panjang.
  • Bahkan pada suhu yang sangat tinggi, stainless steel mampu mempertahankan kekuatan dan tahanan terhadap oksidasi dan korosi. Pada temperatur cryogenic, stainless bisa tetap sulit berubah.

Continue reading