Monthly Archives: Mei 2017

LAPORAN PRAKTIKUM PEMUAIAN PANAS MEMAKAI DIAL GAUGE

PEMUAIAN PANAS MEMAKAI DIAL GAUGE

(Laporan Praktikum Fisika Eksperimen)

Oleh

Kelompok III

LABORATORIUM EKSPERIMEN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017

Continue reading

LAPORAN PRAKTIKUM INTERFEROMETER MICHELSON

INTERFEROMETER MICHELSON

(Laporan Praktikum Fisika Eksperimen)

Oleh

Kelompok III

LABORATORIUM EKSPERIMEN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017

Continue reading

TRANSFORMASI AUSTENIT PENDINGINAN KONTINYU PADA BAJA

Transformasi austenit pendinginan kontinyu pada baja

Secara teoritis tidaklah tepat memplot kurva pendinginan pada suatu 1-T diagram, karena 1-T diagram menggambarkan transformasi yang berlangsung pada temperatur  tetap, sedang dengan pendinginan transformasi akan berlangsung pada temperature yang tidak tetap, namun secara kontinyu. Dengan pendinginan kontinyu, seperti yang terjadi pada proses laku panas, bentuk diagram  akan menggalami beberapa perubahan sebagai akibat dari pendinginan itu sendiri. Untuk pendinginan yang kontinyu ini dapat diturunkan dari 1-T diagram, suatu diagram transformasi lain yang dinamakan C-T diagram (atau  CCT, Continioitas Cooling Transformatin diagram).

Continue reading

SEJARAH, PENGERTIAN, PRINSIP KERJA, DAN APLIKASI SEL SURYA

Sejarah Sel Surya

Penemuan tentang efek fotofoltaik pertama kali dilakukan oleh Becquerel pada tahun 1839, dimana Becquerel mendeteksi adanya tegangan foto ketika sinar matahari mengenai elektroda pada larutan elektrolit. Kemudian pada tahun 1954, para peneliti dari Bell Laboratories melakukan pengembangan efek fotovoltaik menjadi sel surya dengan menggunakan material silikon kristal terdifusi. Efisiensi  konversi sel surya yang diperoleh saat itu sekitar 4,5% . Sejak saat itu,  sel surya mulai menarik perhatian banyak peneliti karena sel surya diperkirakan dapat menjadi kandidat sumber pembangkit listrik dimasa mendatang. Berbagai material kemudian diteliti untuk mendapatkan jenis material yang dapat menghasilkan sel surya dengan efisiensi konversi yang tinggi. Analisis teoritik yang berdasarkan celah pita energimenginformasikan bahwa beberapa jenis material diperkirakan mampu menghasilkan sel surya dengan efisiensi konversi lebih dari 30%.

Continue reading

INTERFEROMETER MICHELSON DAN PEMBAGI CAHAYA/BEAM SPLITTER

Interferometer Michelson

Interferensi oleh film (lapisan) tipis merupakan dasar dari Interferometer Michelson, diciptakan oleh seorang Amerika, Albert A. Michelson. Interferensi terjadi ketika dua buah cahaya yang telah dibagi digabungkan kembali. Interferensi Michelson menghasilkan interferensi dari pembelokkan sinar cahaya dalam dua bagian. Setiap bagian dibuat melalui bagian yang berbeda dan membawa kembali semuanya menurut intreferensi panjang gelombang yang berbeda.

Continue reading

TRANSFORMASI AUSTENIT PADA TEMPERATUR TETAP

Transformasi austenit pada temperatur tetap

Temperatur transformasi austenit banyak berpengaruh terhadap penyebaran ferrit dan sementit pada hasil transformasi tersebut, yang akhirnya juga akan mempengaruhi sifat baja sesudah proses laku panas. Dengan membuat transformasi ini berlangsung pada temperatur tetap (isotermal) dapat dipelajari waktu mulai dan berakhirnya transformasi dan lain-lain, yang akan berguna untuk menentukan prosedur laku panas yang harus dilakukan untuk menghasilkan baja dengan strukturmikro tertentu.

Continue reading

TRANSFORMASI FASE SAAT PENDINGINAN PADA BAJA

Transformasi Fase saat Pendinginan

Dalam suatu proses laku panas, setelah pemanasan mencapai temperatur yang ditentukan  dan diberi holding time secukupnya maka dilakukan pendinginan dengan laju tertentu.  Struktur mikro yang terjadi setelah pendinginan akan tergantung pada laju-laju pendinginan. Karenanya sifat mekanikdari baja seelah akhir suatu proses laku panas akan banyak di tentukan oleh laju pendinginan.

Continue reading

TRANSFORAMSI FASE SAAT PEMANASAN PADA BAJA

Transformasi Fase pada saat Pemanasan

Transformasi yang  terjadi selama pemanasan dapat dipelajari dari diagram keseimbangan (diagram fase). Pada temperatur kamar, baja hypoeutektoid (misal dengan 0,8% karbon) terdiri dari butir-butir Kristal ferrit dan perlit, perubahan struktur mikro yang terjadi  pemanasan atau pendinginan ekuillbrium dapat dilihat pada gambar1.2. kalau bajaini dipanaskan sampai temperatur dibawah temperatur kritis AV, maka belum tampak adanya perubahan struktur mikro. Tetapi bila pemanasan dilanjutkan hingga tepat pda temperature kritis A1 maka perlit akan mengalami reaksi eutectoid, lamel-lamel ferrit dan semetit dari perlit akan bereaksi dan menjadi austenit.

Continue reading

FLAME HARDENING DAN INDUCTION HARDENING

Flame Hardening

Pengerasan dilakukan dengan hanya memanaskan bagian permukaan. Pada flame hardening dilakukan dengan menyalakan api dengan intensitas tinggi ke permukaan, biasanya dengan api dari brander oxyacetlene, sehingga sebelum panas sampai menjalar ke bagian dalam bagian permukaan yang sudah mencapai temperatur austenisting kemudian diquench. Dengan demikian di bagian permukaan terbentuk martensit, sedang di bagian dalam tetap seperti semula karena itu baja yang akan diflame hardening harus mempunyai hardenability yang memadai, kadar karbonnya 0,30-0,60%.

Continue reading

NITRIDING, CYANIDING, DAN CARBONITRIDING PADA BAJA

Nitriding

Nitriding adalah proses di mana nitrogen (N) ditambahkan ke permukaan baja untuk meningkatkan kekerasan permukaan dan ketahanan aus permukaan. Nitriding dilakukan dengan memanaskan baja di dalam dapur dengan atmosfer yang mengandung atom nitrogen aktif yang akan berdisosiasi dalam baja membentuk nitrida. Nitrogen aktif ini diperoleh dari gas amonia yang dialirkan secara kontinyu kedalam dapur yang kedap udara dengan temperatur 500oC – 600oC. Baja yang tepat untuk proses nitriding biasanya merupakan baja carbon-medium yang mengandung unsur paduan membentuk nitride forming element seperti alumunium, kromium, molyb-denum, dan vanadium.

Continue reading