TERMINOLOGI MAGNET

Terminologi Magnet

Magnet adalah suatu materi yang mempunyai medan magnet. Magnet juga merupakan logam yang dapat menari besi atau baja dan memiliki medan magnet. Magnet dapat dibuat dari bahan besi, baja, dan campuran logam serta telah dimanfaatkan untuk industri otomotif. Sebuah magnet terdiri atas magnet-magnet kecil yang memiliki arah yang sama (tersusun teratur) sehingga efeknya saling meniadakan, yang mengakibatkan tidak adanya kutub-kutub magnet pada ujung logam. Benda dapat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan sifat kemagnetannya yaitu benda magnetik dan benda non-magnetik (Pangestuti, 2016).

Continue reading

BARIUM FERIT DAN SIFAT MAGNET BARIUM HEKSAFERIT

Barium Ferit

          Barium ferit adalah bahan magnet keras yang memiliki bahan utama oksida besi. Barium ferit juga disebut sebagai magnet ferit. Magnet keras (ferit) yang banyak digunakan dalam aplikasi biasanya tersusun atas barium atau stronsium dengan oksida besi. Bahan magnet ferit memiliki sifat mekanik dengan kekerasan dan sifat magnetik yang cukup tinggi. Barium ferit memiliki karakteristik yang unggul, yaitu suhu Curie yang relatif tinggi, gaya koersivitas tinggi, medan anisotropi yang tinggi, serta stabilitas kimia dan ketahanan korosi yang sangat baik (Nowosielski et al., 2008). Meskipun, karakteristik produk energi maksimumnya (BHmaks) lebih rendah dibandingkan dengan magnet keras lainnya, seperti NdFeB, SmCo, dan Alniko (Yamauchi et al., 2009). Continue reading

SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis DAN HUKUM LAMBERT

Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer.

Continue reading

SEJARAH SINAR KATODA DAN SIFAT-SIFAT SINAR KATODA

Sejarah Sinar Katoda

Pada tahun 1857 Heinrich Geissler mengumumkan keberhasilannya dalam membuat ruang hampa udara bertekanan sangat rendah. Para ilmuwan menyambut hangat penemuan Geissler. Penemuan Geissler selanjutnya digunakan oleh Julius Plocker untuk melakukan percobaan. Sebuah tabung berisi gas diberi elektroda positif (anoda) dan elektroda negatif (katoda) pada ujung-ujungnya. Jika elektroda-elektroda dihubungkan dengan sumber tegangan tinggi molekul-molekul gas akan terionisasi menjadi muatan positif dan muatan negatif. Peristiwa ini sering dinamakan pelucutan gas (discharge). Adapun instrumen yang digunakan sering disebut tabung lucutan.

Continue reading

SPEKTRUM ABSROPSI, SPEKTRUM EMISI, DAN SPEKTRUM ATOMIK

Spektrum Absorpsi

Elektron dari elemen yang berada dalam keadaan dasar dapat menyerap peristiwa energi untuk mencapai keadaan energi yang lebih tinggi. Frekuensi cahaya yang ditransmisikan melalui zat ini, dengan garis-garis gelap menunjukkan cahaya yang diserap, merupakan substansi spektrum penyerapan. Spektrum penyerapan unsur diwakili oleh pita warna dengan garis-garis gelap yang terpisah antara mereka. Seluruh garis merupakan total cahaya yang difokuskan pada elemen. Garis gelap adalah bagian dari spektrum di mana elektron menyerap foton cahaya, maka, ada atau tidak adanya cahaya pada bagian-bagian ini. Sisa bagian berwarna dari spektrum tersebut merupakan bagian dari peristiwa cahaya yang belum diserap, dan karenanya, muncul warna panjang gelombang tertentu. Alasan untuk pola ini adalah bahwa, semua elektron dari atom berada pada tingkat energi yang berbeda pada waktu tertentu. Perbedaan energi antara dua tingkat energi setiap elektron berbeda.

Continue reading

LAPORAN PRAKTIKUM PEMUAIAN PANAS MEMAKAI DIAL GAUGE

PEMUAIAN PANAS MEMAKAI DIAL GAUGE

(Laporan Praktikum Fisika Eksperimen)

Oleh

Kelompok III

LABORATORIUM EKSPERIMEN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017

Continue reading

LAPORAN PRAKTIKUM INTERFEROMETER MICHELSON

INTERFEROMETER MICHELSON

(Laporan Praktikum Fisika Eksperimen)

Oleh

Kelompok III

LABORATORIUM EKSPERIMEN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017

Continue reading

TRANSFORMASI AUSTENIT PENDINGINAN KONTINYU PADA BAJA

Transformasi austenit pendinginan kontinyu pada baja

Secara teoritis tidaklah tepat memplot kurva pendinginan pada suatu 1-T diagram, karena 1-T diagram menggambarkan transformasi yang berlangsung pada temperatur  tetap, sedang dengan pendinginan transformasi akan berlangsung pada temperature yang tidak tetap, namun secara kontinyu. Dengan pendinginan kontinyu, seperti yang terjadi pada proses laku panas, bentuk diagram  akan menggalami beberapa perubahan sebagai akibat dari pendinginan itu sendiri. Untuk pendinginan yang kontinyu ini dapat diturunkan dari 1-T diagram, suatu diagram transformasi lain yang dinamakan C-T diagram (atau  CCT, Continioitas Cooling Transformatin diagram).

Continue reading

SEJARAH, PENGERTIAN, PRINSIP KERJA, DAN APLIKASI SEL SURYA

Sejarah Sel Surya

Penemuan tentang efek fotofoltaik pertama kali dilakukan oleh Becquerel pada tahun 1839, dimana Becquerel mendeteksi adanya tegangan foto ketika sinar matahari mengenai elektroda pada larutan elektrolit. Kemudian pada tahun 1954, para peneliti dari Bell Laboratories melakukan pengembangan efek fotovoltaik menjadi sel surya dengan menggunakan material silikon kristal terdifusi. Efisiensi  konversi sel surya yang diperoleh saat itu sekitar 4,5% . Sejak saat itu,  sel surya mulai menarik perhatian banyak peneliti karena sel surya diperkirakan dapat menjadi kandidat sumber pembangkit listrik dimasa mendatang. Berbagai material kemudian diteliti untuk mendapatkan jenis material yang dapat menghasilkan sel surya dengan efisiensi konversi yang tinggi. Analisis teoritik yang berdasarkan celah pita energimenginformasikan bahwa beberapa jenis material diperkirakan mampu menghasilkan sel surya dengan efisiensi konversi lebih dari 30%.

Continue reading

INTERFEROMETER MICHELSON DAN PEMBAGI CAHAYA/BEAM SPLITTER

Interferometer Michelson

Interferensi oleh film (lapisan) tipis merupakan dasar dari Interferometer Michelson, diciptakan oleh seorang Amerika, Albert A. Michelson. Interferensi terjadi ketika dua buah cahaya yang telah dibagi digabungkan kembali. Interferensi Michelson menghasilkan interferensi dari pembelokkan sinar cahaya dalam dua bagian. Setiap bagian dibuat melalui bagian yang berbeda dan membawa kembali semuanya menurut intreferensi panjang gelombang yang berbeda.

Continue reading